Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU



 
Untuk membuat rancangan perangkat pembelajaran IPA Terpadu, diperlukan persiapan dan perencanaan matang untuk menjamin terjadinya pengalaman belajar yang sukses bagi siswa. Pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan ketika merancang pembelajaran IPA Terpadu meliputi:

A.    Analisis kurikulum
Langkah pertama dalam membuat rancangan pembelajaran IPA Terpadu adalah menganalisis kurikulum untuk mendapatkan SK dan KD yang akan dipilih, mengenali bidang yang cocok untuk dikaji. Hal ini dapat dilakukan oleh seorang guru atau sekelompok guru IPA yang disarankan untuk mengadakan suatu sesi curah pendapat untuk mengenali tema yang mungkin. Saat mempertimbangkan tema, beberapa faktor perlu diperhitungkan. Pertama adalah minat siswa. Suatu tema harus mampu menangkap minat dan rasa ingin tahu siswa sekaligus memotivasi dan menantang. Keterlibatan siswa dalam curah pendapat awal dapat membantu dalam penentuan subjek apa yang merangsang minat dan  keingintahuan siswa. Faktor kedua yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah lingkup topik. Akhirnya, faktor ketiga yang perlu dipertimbangkan ketika pemilihan tema adalah menilai apakah sumber-sumber yang tersedia memadai untuk aktivitas agar aktivitas tersebut dapat dilaksanakan secara utuh dan berhasil. Guru harus memastikan bahwa kebutuhan-kebutuhan bahan dan alat cukup tersedia dan mudah diperoleh.
Sebuah petunjuk ringkas untuk mempertimbangkan ketika merencanakan sebuah rancangan pembelajaran IPA Terpadu, sebagai berikut:
a.      Pilihlah sebuah tema yang cocok.
b.      Ajak seluruh siswa dalam kelas untuk mendiskusikan kemungkinannya.
c.       Tentukan fokus belajarnya.
d.      Ajukan daftar aktivitas-aktivitas yang beragam berkaitan dengan topik.
e.      Kembangkan strategi untuk melibatkan potensi rumah.
f.        Ciptakan atmosfer belajar informal dan rileks.
g.      Berbagi informasi sehari-hari pada topik yang dikaji.
h.      Temui siswa-siswa untuk menentukan dan merefleksi tujuan-tujuan personal.
i.        Dorong kebebasan, kreativitas, dan penemuan.
j.        Dorong siswa untuk bekerja sama.
k.       Beri kesempatan pada siswa untuk berbagi pengalaman.
l.        Libatkan nara sumber seperti pustakawan, artis, para professional, kelompok relawan, dll.
m.    Dorong siswa untuk menyajikan kerja mereka kepada lainnya, termasuk siswa-siswa, para orang tua, kelompok-kelompok relawan, dan pensiunan.
n.      Beri penekanan pada teknik-teknik reflektif dan tanggung jawab untuk evaluasi.

B.    Hasil yang Diharapkan (Analisis Tujuan)
Setelah menentukan SK dan KD, memilih sebuah tema , guru harus menentukan hasil yang diharapkan dari rancangan pembelajaran tersebut, yakni apa yang diharapkan pada siswa untuk diketahui dan dikerjakan setelah suatu pembelajaran selesai dilaksanakan? Hasil belajar harus merefleksikan isi, keterampilan, perilaku, dan sikap. Hasil belajar yang berupa isi harus merujuk pada harapan-harapan sekolah atau Dinas Pendidikan, tetapi boleh juga dikembangkan dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari tema itu sendiri.
Setelah beberapa pertanyaan pemandu telah diidentifikasi, pertanyaan-pertanyaan itu dapat digunakan untuk menentukan hasil belajar yang berupa isi dari rancangan pembelajaran tersebut.

C.     Mengaitkan Tema dengan Hasil Belajar ( Analisis materi)
Setelah menentukan hasil belajar dari rancangan pembelajaran IPA Terpadu, guru dapat memulai untuk memilih IPA Terpadu yang sesuai, misalnya tipe yang cocok adalah  jaring laba-laba  yang merupakan sebuah peta visual tentang bagaimana berbagai bidang muatan dapat dipadukan secara efektif untuk mendukung tema yang dipilih. Tentu saja hal itu bergantung pada lingkup dan fokus tema dan tidak setiap disiplin ilmu akan sesuai untuk dipadu, hanya bidang-bidang yang secara alamiah mendukung dan komplementer terhadap tema yang layak untuk dipadu sehingga kita tidak perlu mencoba untuk memadukan setiap disiplin ilmu dalam Sains untuk setiap tema. Memaksakan pemaduan isi yang tidak logis atau tidak alamiah akan menghilangkan nilai pembelajaran IPA Terpadu. Setelah mengisikan SK dan KD yang akan dipadukan dalam salah satu tipe IPA Terpadu yang dipilih akan dilanjutkan dengan menganalisis konsep-konsep dasar materi tersebut dan menyusunnya dalam peta konsep

D.    Memilih dan Mengembangkan Aktivitas (Analisis kegiatan)
Selanjutnya guru harus memilih atau mengembangkan aktivitas-aktivitas yang tidak hanya menghubungkan disiplin ilmu bersama-sama, tetapi juga mengkaitkan subjek-subjek ke tema secara keseluruhan. Sebagai tambahan terhadap pemilihan aktivitas yang mengkaitkan kurikulum pada tema, guru harus merencanakan aktivitas yang mencerminkan tingkat-tingkat yang berbeda pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Para siswa harus diminta tidak hanya untuk belajar tema pada tingkat faktual, tetapi menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi dan isu berkenaan dengan tema. Ketika memilih aktivitas, guru harus secara konsisten merujuk kembali ke hasil belajar yang diharapkan dan tujuan untuk meyakinkan bahwa setiap aktivitas dalam berbagai cara benar-benar menopang hasil-hasil dan tujuan itu.
Aktivitas IPA Terpadu seharusnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk “belajar sambil berbuat” dalam Sains. Aktivitas-aktivitas  yang dipilih harus mengandung prinsip-prinsip penting berkaitan dengan konsep-konsep individual. Sebagai contoh, saat mempelajari gravitasi bumi, siswa dikenalkan dengan cara sederhana untuk mengetahui efek gravitasi pada benda hidup (cacing tanah). Masing-masing aktivitas harus dekat dengan pertanyaan-pertanyaan penyelidikan dan penerapan yang menyebabkan siswa harus mengkaitkan topik Sains yang diselidiki dengan konsep-konsep lain dalam Sains, sambil menunjukkan prosedur dan material secara jelas, siswa didorong untuk mengajukan saran-saran berkenaan dengan cara-cara alternatif untuk mendekati beberapa masalah eksperimental. Mereka harus ditanya dan ditantang untuk mengkaitkan pengalaman laboratorium terhadap apa yang dipelajari di kelas dan di luar kelas.
Aktivitas-aktivitas yang dipersiapkan sebaiknya tidak menuntut penyiapan alat-alat yang canggih. Aktivitas-aktivitas itu sebaiknya dirancang untuk mengeksplorasi Sains melalui pendekatan sederhana dan menantang terhadap masing-masing topik. Latar belakang perlu disediakan untuk membantu guru dan siswa membuat keterhubungan antar disiplin ilmu sehingga dapat diselidiki.
Cara lain dalam merancang pembelajaran, pertama guru mengenali wilayah isi yang menyediakan berbagai hal yang sesuai dengan tema. Selanjutnya guru mengembangkan atau memilih aktivitas pada masing-masing subjek yang secara logis mendukung dan terpadu dengan tema. Hasil-hasil kegiatan dalam kelas sedapat mungkin digeneralisasikan pada lingkungan yang lebih luas, sehingga siswa mengembangkan kesadarannya terhadap dampak-dampak kajian, misalnya dampak negatif dari polusi. Sebagai tambahan, para siswa disarankan untuk membuat jurnal dari aktivitasnya untuk membandingkan kondisi kajiannya pada tempat-tempat yang berbeda. Hasil-hasil kajian ini sedapat mungkin digrafikkan untuk kebutuhan perbandingan visual.
Akhirnya, guru harus mengidentifikasi aktivitas kulminasi yang harus dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Para siswa akan mempraktekkan beberapa pengetahuan mereka tentang kajiannya, misalnya mempraktekkan pengetahuan mereka tentang polusi dan lingkungan selama belajar wisata dengan membersihkan danau atau sungai setempat. Mereka juga merancang beberapa tipe rencana konservasi untuk rumah atau sekolah mereka. Pada akhirnya, para siswa akan diberi tes, baik tertulis, lisan, atau perbuatan untuk menentukan sejauh mana mereka menuntaskan lingkup isi pembelajaran.

E.      Mengembangkan Rencana Penilaian (Analisis soal/Asesmen IPA Terpadu)
Guru harus mengumpulkan beberapa tipe rencana penilaian yang dapat digunakan untuk mendemonstrasikan ketuntasan siswa dari hasil belajar yang diharapkan. Rencana harus memuat kriteria untuk menilai pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Penilaian boleh mengandung komponen formatif, termasuk kerja portofolio dan evaluasi proses, atau kombinasi antara penilaian formatif dan sumatif, termasuk tes tulis dan tugas-tugas kinerja. Sebagai tambahan, banyak guru memilih untuk menyimpulkan pelajaran berbasis tema dengan aktivitas kulminasi semacam pameran hasil kerja, drama atau studi wisata.
Akhirnya, tema merupakan satu cara untuk mendekati pembelajaran IPA Terpadu yang memperkenankan siswa untuk membuat hubungan antar subjek, konsep atau gagasan. Melalui pembelajaran berbasis tema, guru dapat menawarkan pada para siswa kesempatan untuk mengeksplorasi materi yang relevan secara mendalam, mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi, dan membuat keterhubungan antara sekolah dan dunia nyata.


Mengapa harus Pembelajaran IPA Terpadu?


Banyak sekali pertentangan pendapat dilapangan antara setuju dan tidak setuju tentang pembelajaran  IPA Terpadu. Pertentangan ini semakin rumit ketika persepsi masing-masing dalam mempersiapkan dan menerapkan dalam proses pembelajaran IPA Terpadu. Belum lagi adanya 3 versi disekolah tingkat SMP, yang pertama IPA di SMP diajarkan oleh masing-masing guru bidang studi yang ada yaitu bidang studi Biologi dan Fisika. Sedangkan bidang studi Kimianya mana?, versi pertama diajarkan sebagai pelengkap oleh guru kedua bidang studi tersebut. Versi kedua, diajarkan oleh guru yang harus memberikan IPA sesuai dengan kurikulum, tidak memandang apakah guru biologi atau guru yang berlatar belakang fisika. Versi ketiga yang mengajar IPA bukan dari latar belakang bidang studi tetapi guru yang ada dan mau mengajar IPA (karena kekurangan guru). Fakta ini membuat hasil belajar siswa tidak optimal, dan lebih parah lagi apabila guru berorientasi pada pendapat bahwa perguruan tinggi tidak ada IPA Terpadu. Kenyataan sekarang telah ada S-1 Pendidikan Sains, S-2 Pendidikan Sains, dan S-3 Pendidikan Sains.
Selain alasan-alasan tersebut di atas, secara psikologis pembelajaran IPA Terpadu lebih menguntungkan para siswa. Penelitian dalam psikologi perkembangan dan kognitif menyarankan bahwa seseorang belajar paling baik ketika berhadapan dengan gagasan yang berkaitan satu sama lainnya. Dalam hal ini berarti bahwa pembelajaran IPA Terpadu dapat membantu retensi siswa.
Secara sosiokultural, pembelajaran IPA Terpadu di tingkat SMP mengarah kepada kebutuhan, minat, dan kapasitas siswa saat itu. Di sinilah yang perlu dipikirkan pengembangan perangkat yang harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa, yang dapat meningkatkan berpikir kritis, pemecahan masalah dan alternative/solusi dari pemecahan masalah tersebut.
Secara motivasional, pembelajaran IPA Terpadu menghindari belajar menghafal dalam lingkup materi, oleh karena itu pembelajaran diorganisasi sekitar pemilihan topik/tema yang dipilih serta yang harus diselesaikan dengan ”Problem Solving” sehingga diharapkan dapat memotivasi dan memperluas minat siswa untuk menindak lanjuti.
Secara pedagogis, untuk mengatasi cakupan materi yang sangat luas dan sulit dan kemungkinan merupakan kendala para guru untuk melingkupi semua hal yang dinyatakan sebagai esensial untuk kehidupan yang produktif. Salah satu usaha mengatasi hal tersebut mereka harus memfokuskan upaya pengalaman ke arah internalisasi dari sikap positip ke arah belajar, sekaligus pembelajaran IPA Terpadu mengarahkan siswa menggunakan keterampilan secara bermakna dan langsung juga meningkatkan transfer belajar karena dekat denga kondisi riil/live science). 

standar Penilaian IPA


Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa di negeri ini harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy). Kemampuan menilai adalah kuncinya.

Orang yang mampu melakukan penilaian (assessment literates) adalah mereka yang memahami prinsip dasar penilaian. Pemahaman akan makna penilaian yang baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standard yang ditetapkan, dan saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini.

Dalam sistem pendidikan di masa yang akan datang, pengujian terstandar (standardized testing) dan penilaian kelas (classroom assessment) akan tetap ada. Kita harus dapat menghargai perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut dan mampu menjamin kualitas kedua penilaian yang dilakukan.

Pada masa yang akan datang, kedua penilaian ini akan terus digunakan, baik sebagai penyedia informasi untuk pembuatan keputusan maupun sebagai media pengajaran. Kita harus memahami perbedaan antara kedua penggunaannya agar dapat memanfaatkan kekuatan kedua jenis penilaian ini semaksimal mungkin untuk meningkatkan pembelajaran.

Pada masa yang akan datang, penilaian tertulis dan kinerja akan tetap ada. Masing-masing memiliki aturan yang berbeda untuk memperoleh hasil yang baik. Orang yang mampu melakukan penilaian dengan baik memahami makna kualitas penilaian secara menyeluruh dan memahami bahwa kita tidak pernah dibenarkan untuk melakukan penilaian yang tidak baik. Kemampuan melakukan penilaian adalah tujuan utama dalam penilaian kelas.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Proses asesmen sebagai Perangkat Komunikasi yang Efektif dalam System Pendidikan IPA

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
3. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Nuryani Y. Rustaman (—-) menyatakan bahwa istilah penilaian biasanya berhubungan dengan pencapaian siswa atas standar yang ditentukan oleh kurikulum, sedangkan istilah evaluasi dapat diterapkan untuk menyatakan penilaian pada bidang lain.

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional.

Proses penilaian merupakan perangkat afektif untuk menyampaikan apa yang diharapkan oleh sistem pendidikan IPA kepada semua pihak yang peduli terhadap pendidikan IPA. Kebijakan dan pelaksanaan penilaian menyediakan definisi operasional mengenai hal-hal yang dianggap penting. Contohnya, penggunaan extended inquiry menyatakan apa saja yang harus dipelajari siswa, apa saja yang harus diajarkan oleh guru, dan di mana saja sumber belajar harus dialokasikan.

B. Standar-standar Asesmen

Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.

Gambar 1. Standar Asesmen dalam Pembelajaran IPA

(Sumber: Wahono Widodo)

C. Pergeseran Penekanan Asesmen dalam Pendidikan IPA

Berdasarkan National Science Education Standard in the United States (National Research Council, 1996: 100) perubahan fokus yang terjadi pada standard penilaian adalah sebagai berikut.
Hal yang dikurangi Hal yang diutamakan
Menilai yang mudah diukur Menilai yang paling berharga
Menilai pengetahuan yang memiliki ciri yang jelas Menilai pengetahuan yang kaya dan berstruktur baik
Menilai pengetahuan yang bersifat ilmiah Menilai pemahaman dan pemikiran ilmiah
Menilai untuk mempelajari apa yang tidak dipahami siswa Menilai untuk mempelajari apa yang dipahami siswa
Hanya melakukan penilaian atas pencapaian Menilai pencapaian dan peluang untuk belajar
Penilaian akhir dilakukan oleh guru Siswa terlibat dalam penilaian yang sedang berlangsung atas hasil kerjanya dan hasil kerja temannya
Pengembangan penilaian eksternal hanya oleh ahli Guru terlibat dalam pengembangan penilaian eksternal

(Sumber: Nuryani Y. Rustaman)

D. Pembelajaran Sains untuk Jangka Panjang

Dalam Nuryani Y. Rustaman (—-), Penilaian terhadap Hasil Pembelajaran:

1. Sasaran yang terarah terutama terhadap: pemikiran, pemahaman atas materi IPA dan penerapannya; kebiasaan berpikir yang produktif (berpikir kritis, berpikir kreatif, mengatur diri sendiri); karaketristik IPA
2. kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking skills,HOTS)
3. karakteristik IPA



Berikut ini adalah pengelompokan utama sasaran pencapaian menurut Stiggins (1994:67):
1. Penguasaan siswa atas pengetahuan materi subjek inti;
Kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuannya untuk berpikir dan menyelesaikan masalah;
Kemampuan untuk menunjukkan keterampilan yang terkait dengan pencapaian tertentu, misalnya melakukan tindakan psikomotor;
Kemampuan untuk membuat produk yang terkait dengan jenis pencapaian tertentu, misalnya produk IPA (taksidermi, kerangka, herbarium);
Pencapaian perasaan atau keadaan afektif tertentu, seperti sikap, minat, dan motivasi.

2. Penilaian yang Terarah pada Proses Pembelajaran IPA
a) Penilaian kinerja dan/atau penilaian otentik;
b) Proses IPA diturunkan dari data;
c) Kooperatif dan kolaboratif;
d) Hands-on dan minds-on;
e) Keterampilan praktik dan komunikasi;
f) Sikap ilmiah dan nilai yang terkandung dalam IPA.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nuryani Y. Rustaman (—-) menyatakan bahwa istilah penilaian biasanya berhubungan dengan pencapaian siswa atas standar yang ditentukan oleh kurikulum, sedangkan istilah evaluasi dapat diterapkan untuk menyatakan penilaian pada bidang lain.

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional.

Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.

B. Saran

Hendaknya setiap para pendidik proses assessment khususnya alam pendidikan IPA. Sehingga diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan nantinya.

SURVEI INTERNASIONAL PIRLS


Apa itu PIRLS?

PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi internasional tentang literasi membaca untuk siswa sekolah dasar. Studi ini dikoordinasikan oleh IEA (The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. PIRLS merupakan studi yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, yaitu pada tahun 2001, 2006, 2011, dan seterusnya. Indonesia mulai berpartisipasi pada PIRLS 2006. Pada tahun itu sebanyak 45 negara/negara bagian berpartisipasi sebagai peserta.

Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Untuk PIRLS 2006, pengembangan tes dan angket dipusatkan di Boston College, Boston-USA; penentuan sampel sekolah ditentukan oleh Statistics Canada di Ottawa-Kanada; dan pengolahan data dilakukan di Data Processing Center, Hamburg-Jerman.

Tujuan

Tujuan PIRLS 2006 adalah untuk mengukur prestasi literasi membaca siswa kelas IV di negara-negara peserta. Bagi Indonesia, manfaat yang dapat diperoleh antara lain adalah untuk mengetahui posisi prestasi siswa Indonesia bila dibandingkan dengan prestasi siswa di negara lain dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan.

Apa yang diukur?

Dasar dari penilaian literasi membaca dalam PIRLS 2006 adalah tujuan membaca dan proses pemahaman. Tujuan membaca dikelompokkan kedalam dua bagian sedangkan proses pemahaman dikelompokkan menjadi empat bagian. Distribusi spesifikasi dari penilaian tersebut adalah sebagai berikut:

Tujuan membaca untuk:
1.      berpengalaman bersastra (50%)
2.      memperoleh dan menggunakan informasi (50%)

Proses pemahaman dalam:
1.      mengambil informasi secara eksplisit (20%)
2.      membuat kesimpulan secara langsung (30%)
3.      menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan informasi (30%)
4.      mengevaluasi isi, bahasa, dan unsur teks (20%)

Spesifikasi itu kemudian dituangkan menjadi soal-soal untuk dirakit menjadi buku-buku tes literasi. Selain itu, siswa, orangtua, guru, dan kepala sekolah juga diberikan angket tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan pembelajaran membaca bagi siswa.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam studi ini adalah seluruh siswa kelas IV sekolah dasar di Indonesia. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan tiga strata, yaitu jenis sekolah (SD/MI), status sekolah (Negeri/Swasta), dan lokasi sekolah (Desa/Kota). Sebanyak 4.950 siswa dari 170 SD/MI negeri dan swasta, baik di desa maupun di kota, terpilih sebagai sampel.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Maret-April 2006 secara bersamaan di sekolah-sekolah sampel. Siswa-siswa dalam satu kelas utuh diberikan buku tes untuk dikerjakan selama 80 menit. Setelah itu, siswa, orang tua, guru, dan kepala sekolah diminta untuk mengisi angket.


Hasil

Tabel berikut menunjukkan peringkat prestasi literasi membaca siswa antar-negara peserta (Rata-rata skor internasioanal = 500 dan standar deviasi = 100):

Tabel Skor Rata-rata Prestasi Literasi Membaca
No.
Negara
Skor

No.
Negara
Skor
1
Rusia
565

24
Selandia Baru
532
2
Hongkong
564

25
Slowakia
531
3
Kanada, Alberta
560

26
Skotlandia
527
4
Singapura
558

27
Prancis
522
5
Kanada, Britis Kolombia
558

28
Slovenia
522
6
Luksemburg
557

29
Polandia
519
7
Kanada, Ontario
555

30
Spanyol
513
8
Italia
551

31
Israel
512
9
Hungaria
551

32
Islandia
511
10
Swedia
549


Internasional
500
11
Jerman
548

33
Moldova
500
12
Belanda
547

34
Belgia (French)
500
13
Belgia (Flemish)
547

35
Norwegia
498
14
Bulgaria
547

36
Rumania
489
15
Denmark
546

37
Georgia
471
16
Kanada, Nova Skotia
542

38
Masedonia
442
17
Latvia
541

39
Trinidad dan Tobago
436
18
Amerika Serikat
540

40
Iran
421
19
Inggris
539

41
INDONESIA
405
20
Austria
538

42
Qatar
353
21
Lithuania
537

43
Kuwait
330
22
Taiwan
535

44
Maroko
323
23
Kanada, Quebec
533

45
Afrika Selatan
302

Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor prestasi literasi membaca siswa kelas IV Indonesia (405) berada signifikan di bawah rata-rata internasional (500). Indonesia berada pada posisi 41 dari 45 negara (negara bagian) peserta. Indonesia masih lebih baik daripada 4 negara dibawahnya yaitu Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan, tetapi tidak lebih baik dari 40 negara (negara bagian) di atasnya.