Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

FOTOSINTESIS DITINJAU DARI ILMU BIOLOGI, FISIKA, DAN KIMIA


FOTOSINTESIS DITINJAU DARI ILMU BIOLOGI, FISIKA, DAN KIMIA

Di dalam tubuh makhluk hidup terjadi proses metabolisme, yaitu seluruh proses biokimia yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup. Metabolisme terbagi 2 yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme merupakan reaksi pembentukan senyawa-senyawa kompleks sedangkan katabolisme merupakan reaksi penguraian senyawa kompleks. Salah satu contoh anabolisme adalah fotosintesis.
Kehidupan di bumi digerakkan oleh energi matahari. Kloroplas tumbuhan menangkap energi cahaya yang dikeluarkan oleh matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia yang disimpan dalam gula dan molekul organik lainnya.proses seperti ini disebut fotosintesis. Fotosintesis sangat penting karena hampir semua makhluk hidup tergantung pada proses ini.
Daun merupakan tempat utama berlangsungnya fotosintesis. Terdapat kira-kira setengah juta kloroplas tiap millimeter persegi permukaan daun. Warna daun berasal dari klorofil yaitu pigmen warna hijau daun yang terdapat di dalam kloropas. Fotosintesis hanya dapat terjadi jika ada cahaya dan kloroplas. Dengan keberadaan cahaya bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau akan menghasilkan bahan organic dan oksigen dari karbondioksida dan air. Dengan menggunakan rumus molekul proses fotosintesis dirangkum dalam persamaan berikut:

6 CO2 + 6 H2O + energi cahayaà C6H12O6 + 6 O2
(Campbell Reece & Mitchell, 1974: 181)
1.    Tinjauan proses fotosintesis dari ilmu Biologi
Proses fotosintesis terjadi pada mahluk hidup yang memiliki klorofil, meliputi tumbuhan, beberapa jenis alga, dan beberapa jenis bakteri. Seperti yang dinyatakan di atas, fotosintesis merupakan proses analobisme, yaitu pembentukan senyawa kompleks dari senyawa sederhana. Senayawa kompleks yang akan terbentuk adalah karbohidrat, sedangkan senyawa sederhana adalah karbondioksida, uap air, dan klorofil.
Proses fotosintesis terjadi dalam rangka pembentukan karbohidrat yang merupakan zat yang paling penting bagi manusia dan hewan. Fotosintesis juga terjadi untuk menghasilkan oksigen yang penting bagi proses pernafasan makhluk hidup lainnya.
Proses fotosintesis sebagian besar terjadi di dalam daun. Daun memiliki kloroplas yang mengandung klorofil. Kloroplas ditemukan terutama dalam sel mesofil, yaitu jaringan yang terdapat di bagian dalam daun. Sel mesofil memiliki 30 sampai 40 kloroplas. Satu kloroplas mendung tilakoid. Klorofil sendiri terletak di dalam tilakoid. Tumpukan tilakoid yang berbentuk kolom disebut grana.
Karbondioksida masuk ke dalam daun, dan oksigen keluar, melalui pori mikroskopik yang disebut stomata. Air yang diserap oleh akar dialirkan ke daun melalui berkas pembuluh. Daun juga menggunakan berkas pembuluh untuk mengirimkan gula ke akar dan bagian tumbuhan yang tidak berfotosintesis.

2.    Tinjauan proses fotosintesis dari ilmu Fisika
a.    Sifat-sifat cahaya matahari
Cahaya merupakan energy dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Jarak Antara puncak-puncak gelombang elektromagnetik disebut panjang gelombang. Panjang gelombnag berkisar antara kurang dari 1 nm sampai 1 km. keseluruhan kisaran radiasi ini dikenal sebagai spektrum elektromagnetik. Walaupun matahari meradiasikan spektrum penuh dari energy elektromagnetik, atmosfer menyaring sebagian besar radiasi untuk tidak sampai ke bumi. Cahaya tampak merupakan spektrum matahari yang sampai ke bumi dan berperan dalam proses fotosintesis. Cahaya tampak yang mempunyai panjang gelombang 680 nm dan 700 nm akan diserap oleh klorofil dan berperan dalam reaksi terang.
Cahaya dapat diserap, dipantulkan, dan diteruskan. Di dalam fotosintesis bahan-bahan yang menyerap cahaya disebut pigmen. Pigmen yang berbeda akan menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda, dan panjang gelombang yang diserap akan menghilang. Sebagai contoh, klorofil akan menyerap spektrum yang berwarna merah dan biru, kemudian memantulkan spektrum berwarna hijau sehingga kita melihat daun berwarna hijau.
Dalam hal ini berlaku hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak bisa diciptakan, juga tidak bisa dimusnahkan. Walaupun warna dari spektrum yang diserap oleh klorofil menghilang, energinya tidak hilang. Energi dari foton yang diserap diubah menjadi energi potensial elektron yang dinaikkan dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi. Apabila pigmen kembali menyerap cahaya maka elektron akan kembali jatuh ke keadaan dasar dan melepaskan kembalu energi dalam bentuk panas dan cahaya (fluoresensi).



b.    Hukum kekekalan energi
Energi radiasi sinar matahari ditangkap oleh klorofil kemudian diubah menjadi energy kimia melalui proses fotosintesis. Dalam hal ini tidak ada energi yang musnah. Energy kimia tersebut digunakan untuk mensintesis CO2 dan H2O menjadi glukosa dan senyawa kompleks lainnya yang tersimpan dalam bentuk senyawa karbohidrat (bahan makanan). Bahan makanan bila dikonsumsi oleh makhluk hidup lainnya akan diubah menjadi energi kinetik, dan begitu seterusnya sebab energy tidak bisa diciptakan juga tidak bisa dimusnahkan.
3.    Tinjauan proses fotosintesis dari ilmu Kimia
Dalam fotosintesis berlangsung beberapa reaksi kimia. Prinsip reaksi kimia adalah massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat sesudah reaksi. Secara sederhananya, jumlah suatu atom sebelum reaksi sama dengan jumlahnya setelah reaksi, contih:
a.    Penguraian air
Air yang diserap oleh akar tumbuhan akan diuraikan oleh kloroplas menjadi hydrogen dan oksigen dengan reaksi sebagai berikut:

H2Oà H+ + ½ O2

b.    Pembentukan uap air dan karbohidrat
Uap air terbentuk dari penggabungan atom H+ (produk penguraian air) dengan atom O dari CO2 yang diserap oleh tumbuhan. Sedangkan atom C dari CO2 akan membentuk karbohidrat.
Secara ringkas reaksi penggabungan dari penguraian air dengan penyerapan CO2 dapat dituliskan sebagai berikut:
6 CO2 + 12 H2O + energi cahayaà C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O
Dengan menghitung selisih molekul uap air yang dibutuhkan, reaksi di atas dapt juga ditulis:
6 CO2 + 6 H2O + energi cahayaà C6H12O6 + 6 O2
Dari reaksi di atas kita kita dapat melihat berlakunya hukum kekekalan massa, yaitu massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat sesudah reaksi.

c.    Reaksi redoks
Di dalam proses fotosintesis berlaku proses redoks (reduksi oksidasi). Ketika air terurai, elektron ditransfer bersama dengan ion hidrogen dari air ke karbondioksida dan mereduksinya menjadi gula. Elektron bertabah energi potensialnya ketika berpindah dari air ke gula, kebutuhan energi ini disediakan oleh cahaya.
d.    Sifat elektron
Elektron bisa keluar dari orbitalnya jika diberikan energi. Ketika molekul menyerap suatu foton salah satu elektron molekul dinaikkan ke suatu orbital dimana elektron tersebut memiliki energi potensial yang lebih tinggi. Ketika elektron berada pada orbital normalnya molekul pigmen dikatakan berada dalam keadaan dasarnya. Setelah penyerapan foton mendorong elektron ke orbital yang energinya lebih tinggi, molekul pigmen dikatakan dalam keadaaan tereksitasi. 
sumber Rani Oktavia, mahasiswi pasca sarjana upi

MESIN PENDINGIN


tinjauan kimia
Refrigeran adalah fluida kerja yang bersirkulasi dalam siklus refrigerasi. Refrigeran merupakan komponen terpenting siklus refrigerasi karena refrigeran yang menimbulkan efek pendinginan dan pemanasan pada mesin refrigerasi. ASHRAE (2005) mendefinisikan refrigeran sebagai fluida kerja di dalam mesin refrigerasi, pengkondisian udara, dan sistem pompa kalor. Refrigeran menyerap panas dari satu lokasi dan membuangnya ke lokasi yang lain, biasanya melalui mekanisme evaporasi dan kondensasi.
Calm (2002) membagi perkembangan refrigeran dalam 3 periode: Periode pertama, 1830-an hingga 1930-an, dengan kriteria refrigeran "apa pun yang bekerja di dalam mesin refrigerasi". Refrigeran yang digunakan dalam periode ini adalah ether, CO2, NH3, SO2, hidrokarbon, H2O, CCl4, CHCs. Periode ke-dua, 1930-an hingga 1990-an menggunakan kriteria refrigeran: aman dan tahan lama (durable). Refrigeran pada periode ini adalah CFCs (Chloro Fluoro Carbons), HCFCs (Hydro Chloro Fluoro Carbons), HFCs (Hydro Fluoro Carbons), NH3, H2O. CFC merupakan refrigeran yang paling banyak digunakan karena stabil, tidak mudah terbakar, mudah disimpan, dan murah harganya. Tetapi di sisi lain, aspek lingkungan yang kronis tidak dipertimbangkan di awal-awal penggunaannya. CFC belakangan ini diketahui bertanggung jawab terhadap penipisan lapisan ozon yaitu dengan dilepaskannya atom klorin ke atmosfer. CFC merupakan salah satu gas rumah kaca yang melepas emisi secara langsung maupun tidak langsung yang menjadi masalah lingkungan yang menjadi perhatian bersama.
CFC adalah singkatan dari  Chloroflourocarbon yang terbentuk dari atom chlor, flour, dan carbon. Ketiga atom ini termasuk atom yang memiliki jumlah elektron valensi yang relatif kurang stabil atau mudah terikat oleh atom lainnya. Saat CFC telah menyebar ke lapisan ozon dan  sangat mudah dipecah dan kemudian bereaksi dengan ozon yang terbentuk dari tiga atom O (oksigen) yang juga akan terpecah bila ada daya tarik yang lebih kuat dari atom lain di luarnya. Reaksi kimia di antara atom-atom inilah yang akan menghasilkan molekul-molekul baru, mulai dari O2, O, CO, CO2, dan lain-lain. Jika 03 sudah terpecah, fungsinya sebagai filter radiasi matahari akan hilang.
Dua CFC yang umum adalah CFC-11 (Trichloromonofluoromethane atau freon 11) dan CFC-12 (Dichlorodifluoromethane). CFC merupakan zat-zat yang tidak mudah terbakar dan tidak terlalu toksik. Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum hilang dari atmosfer.
Sifat stabil dari CFC yang sangat bermanfaat di bumi ini memberikan peluang baginya untuk merusak lapisan ozon. CFC yang terdifusi ke stratosfer akan mengalami pemutusan ikatan kimianya oleh radiasi UV-C menghasilkan khlor-khlor bebas yang bersifat sangat reaktif, kemudian mengikat sebuah atom oksigen dari molekul ozon (O3) sehingga mengubah ozon tersebut menjadi molekul oksigen (O2). Reaksi perubahan ozon menjadi molekul oksigen adalah sebagai berikut:
CFCl3 +  uv                 –>       CFCl2 +  Cl-
Cl- +  O3                      –>       ClO  +  O2
O2 +  uv energi            –>     2O
ClO  +  2O                  –>       O2 + Cl-
Cl- +  O3 à                    –>        ClO  +  O2
(kembali ke step 2 dan reaksi berlanjut terus)
Senyawa CFC sangat membahayakan karena berumur panjang. Dampak dari penggunaan CFC akan berjalan dalam waktu yang panjang. Di bawah ini rata-rata umur dari beberapa senyawa CFC dan halon.
Jenis CFC
Rata-Rata umur di atmosfer
CFC-11
CFC-12
CFC-13
Halon-1301
17 tahun
111 tahun
90 tahun
110 tahun

Masuknya CFC ke atmosfer menimbulkan proses reduksi-oksidasi (redoks) antara ozon dengan unsur-unsur halogen dari senyawa CFC dan yang sejenisnya. Setiap molekul CFC mampu merusak 100 ribu molekul ozon. Sedangkan senyawa halon (berasal dari unsur halogen) mampu merusak 10 kali lebih efektif dibandingkan dengan CFC. CFC mengurai ozon menjadi oksigen dan sebuah oksigen bebas radikal yang menimbulkan suatu lapisan oksigen sehingga lapisan ozon menjadi semakin tipis yang mudah tertembus sinar ultraviolet dari matahari. Semakin menipisnya lapisan ozon di atmosfer, bahkan sampai berlubang, dapat menimbulkan bencana. Karena manusia akan bermandikan sinar ultraviolet dengan intensitas tinggi yang dapat mengundang penyakit kanker kulit, katarak, serta penurunan sistem kekebalan tubuh.
Ketika freon (CFC) terlepas ke atmosfer, maka molekul CFC akan terurai menjadi atom C sendiri yang sangat reaktif terhadap atom O (rumus molekul ozon adalah O3). Ketika atom C dari pecahan freon bertemu dengan molekul O3, maka atom C akan menarik satu atom O dari ozon, yang akan mengakibatkan  timbulnya karbon monoksida (CO) dan ozon menjadi oksigen biasa (O2) karena kehilangan satu atom O-nya, ditambah lagi, ketika CO terbentuk, maka mereka akan menarik lagi satu atom O dari ozon-ozon (O3) lain sehingga menciptakan CO2, oleh karena itu ozon sebagai pelindung bumi dari sinar ultraviolet menjadi rusak, sementara CO2 memiliki efek rumah kaca yang dapat menahan panas di bumi. Dengan demikian bumi akan menjadi semakin panas.
Pada tahun 1987, ditandatangani Protokol Montreal, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat. Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak 1990 diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George Bush. Pada Desember 1995, lebih dari 100 negara setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju. Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun 2000. CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun 1995 dan dihentikan secara bertahap di negara berkembang hingga tahun 2010. Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC, hingga 2020 pada negara maju dan 2016 di negara berkembang. Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, pada tahun 1991, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas.
Pada bulan Desember 1995 diadakan Vienna conference yang merupakan kelanjutan dari Montreal Protocol. Pada konferensi tersebut ditetapkan skenario penghentian pemakaian CFC dan HCFC dan pencarian atas refrigeran-refrigeran alternatif yang ramah lingkungan. Hidrokarbon sebagai salah satu refrigeran alternatif memiliki banyak keuntungan, antara lain tidak diperlukan perubahan peralatan utama yang sudah ada atau pembelian peralatan baru, hidrokarbon biasa dipakai dengan pelumas mineral maupun sintetis serta tidak menyebabkan kerusakan ozon dan pemanasan global karena ODP yang dimiliki nol dan GWP- nya kecil. Kebutuhan pengisian hidrokarbon dalam mesin pendingin kurang dari separuh (+40%) dibandingkan CFC.
Salah satu refrigeran hidrokarbon yang diproduksi oleh Pertamina Unit pengolahan III Plaju adalah MUSICOOL. Sifat fisika refrigeran hidrokarbon MUSICOOL berdasarkan pengujian laboratorium Pertamina ditampilkan pada Tabel 1, yang menunjukkan bahwa hidrokarbon MUSICOOL (MC) mampu menggantikan refrigeran sintetik (CFC, HCFC, HFC) secara langsung tanpa penggantian komponen sistem refrigerasi. MC-12 menggantikan R-12, MC-22 menggantikan R-22 dan MC-134 menggantikan R-134a.  Sifat fisika dan termodinamik hidrokarbon MUSICOOL memberikan kinerja sistem refrigerasi yang lebih baik, keawetan umur kompresor, dan hemat energi. Beberapa parameter perbandingan kinerja MUSICOOL terhadap refrigeran sintetik pada system refrigerasi dengan beban  1 TR pada suhu kondensasi 100 oF dan suhu evaporator 40 oF. 

ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN


KELOMPOK 1
1.      Agi Dahtiar
2.      Deti Lotaningrat
3.      Gia Juniar Nur Wahidah
4.      Rani Oktavia
5.      Tantri Mayasari
TEMA 4 : ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN
1.      Semakin besar energi cahaya atau intensitas cahaya, maka aliran elektron akan semakin cepat karena elektron yang tereksitasi semakin banyak.
2.      Syarat lampu menyala :
a.       Terjadi dalam rangkaian tertutup. Rangkaian DSSC seperti pada gambar merupakan rangkaian tertutup, yaitu berupa siklus transport elektron.
b.      Ada perbedaan potensial.
Rada rangkaian DSSC,terjadinya eksitasi elektron dari orbital HOMO ke orbital LUMO menyebabkan terjadinya hole pada orbital HOMO. Hole ini kemudian diregenerasi kembali oleh pembe-rian elektron dari larutan elektrolit. Akibatnya, pada sisi counter electrode akan lebih bermuatan positif dan mempunyai potensial positif. Sedangkan pada sisi TCO yang terlapisi TiO2 akan mempunyai poten- sial negatif. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan beda potensial antara kedua elektroda tersebut, sehingga menimbulkan terjadinya aliran listrik jika antara kedua elektroda tersebut diberi beban (Grätzel, 2001). Secara teori, beda potensial maksi-mum antara kedua elektroda adalah selisih antara Fermi level semikonduktor TiO2 dan potensial redoks pada elektrolit (Grätzel, 2003).
3.      Prinsip kerja DSSC adalah sebagai berikut.
a)      Proses diawali dengan terjadinya eksitasi elektron pada molekul dye akibat absorbsi foton dari keadaan ground state (S) menuju excited state (S*).
b)      Energi dari foton tersebut cukup untuk menginjeksi elektron masuk ke pita konduksi dari TiO2 meninggalkan molekul dye ke keadaan oksidasi S+.
c)      Kemudian elektron mengalir menuju anode (elektroda negatif) melalui TiO2 dengan proses difusi. Selanjutnya melalui external load menuju katode (elektroda positif).
d)     Pada katode, elektron berpindah menuju triiodida pada elektrolit menghasilkan iodine.
e)      Siklus dilanjutkan dengan reduksi dye oleh iodine pada elektrolit.
Berikut persamaan reaksi kimia pada DSSC
Anode
D + e-   D*
D* → D+ + e-  (TiO2)
2D+  + 3e- → 2D + I3-
Katode
I3- + 2e- → 3I-
Gambar 1. Skema Kerja dari DSSC
Elektron yang meninggalkan elektrolit (I3) hole pada, diisi kembali oleh elektron yang dibawa oleh iodide. Sehingga akan terjadi siklus elektron.
4.      Laju elektron pada setiap titik pada rangkaian DSSC konstan karena elektron hanya mendapatkan energi dari cahaya matahari yang terkuantisasi dan besarnya sama. Dalam perjalannya, elektron tidak mendapatkan tambahan energi ataupun mengalami hambatan, sehingga kecepatan elektron selalu tetap. Hal ini sesuai dengan persamaan
E =1/2 mv2
5.      Faktor-faktor yang mempengaruhi hambatan kawat (R):
Hambatan pada kawat bisa kita analogikan dengan pergerakan mobil di jalan raya, mobil kita analogikan sebagai elektron dan jalan tersebut sebagai kawatnya.
1.      Jenis penghantar
Jenis penghantar dalam kawat kita analogikan sebagai kondisi jalan, kalau misalkan jalannya diaspal dan yang berbatu tentunya mobil akan bergerak lebih lambat, begitu juga sebaliknya. Hal tersebut juga akan terjadi pada gerak elektron.
2.      Panjang penghantar
Semakin panjang jalan maka mobil juga akan membutukan waktu yang lebih lama dibandingkan jalan yang jaraknya pendek. Ini juga akan terjadi pada elektron.
3.      Luas penampang.
Semakin luas jalan yang dilalui mobil maka akan lebih banyak mobil yang bisa memalui jalan tersebut. Begitu juga akan terjadi pada elektron semakin besar penampang kawat semakin banyak pula electron yang melaluinya.
Sedangkan penerapan pada kasus diatas, ialah jika semakin tebal lapisan penghantar (dalam hal ini TiO2) semakin sedikit elektron yang mengalir. Ini disebabkan karena sebagian elektron tertangkap kembali oleh dye yang teroksidasi. Ini dapat diartikan bahwa semakin tebal lapisan penghantar semakin besar hambatan.


Jawaban benar :
1.      energy maksimum pd pnjg gelombnag tertentu (cahaya tampak). Energy semakin besar, justru memperkecil energy kinetic elektron yg dihasilkan. Intensitas semakin besar, produksi elektron semakin tinggi.
Dye bisa memproduksi elektron
2.      lampu menyala karena
3.      elektron mengalir karena. Lajunya konstan? Melanggar hk kekekalan energy?
4.      C dan R dipengaruhi jenis bahan

SURVEI INTERNASIONAL TIMSS (TRENDS IN INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY)


Apa itu TIMSS?
TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) adalah studi internasional tentang prestasi matematika dan sains siswa sekolah lanjutan tingkat pertama. Studi ini dikoordinasikan oleh IEA (The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. 
TIMSS merupakan studi yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, yaitu pada tahun 1995, 1999, 2003, 2007, 2011, dan seterusnya. Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 1999. Pada tahun 1999 sebanyak 38 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 46 negara dan pada tahun 2007 kembali bertambah menjadi 49 negara.
Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Untuk setiap tahun putaran studi , pengembangan tes dan angket dipusatkan di Boston College, Boston-USA; penentuan sampel sekolah ditentukan oleh Statistics Canada di Ottawa-Kanada; dan pengolahan data dilakukan di Data Processing Center, Hamburg-Jerman.

Tujuan
Tujuan TIMSS adalah untuk mengukur prestasi matematika dan sains siswa kelas VIII di negara-negara peserta. Bagi Indonesia, manfaat yang dapat diperoleh antara lain adalah untuk mengetahui posisi prestasi siswa Indonesia bila dibandingkan dengan prestasi siswa di negara lain dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan.

Apa yang diukur?
Dasar penilaian prestasi matematika dan sains dalam TIMSS dikategorikan ke dalam dua domain, yaitu isi dan kognitif. Distribusi spesifikasi dari penilaian tersebut adalah sebagai berikut:

Domain isi matematika:
1.       Bilangan
2.       Aljabar
3.       Geometri
4.       Data dan Peluang
Domain isi sains:
1.       Biologi
2.       Kimia
3.       Fisika
4.       Ilmu Bumi
Domain kognitif, baik untuk matematika maupun untuk sains:
1.       Pengetahuan
2.       Penerapan
3.       Penalaran

Populasi dan Sampel
Populasi dalam studi ini adalah seluruh siswa kelas VIII sekolah lanjutan tingkat pertama di Indonesia. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan tiga strata, yaitu jenis sekolah (SMP/MTs), status sekolah (Negeri/Swasta), dan performance sekolah (Baik/Sedang/Kurang). Secara keseluruhan, sebanyak 150 SMP/MTs negeri dan swasta, dengan kategori baik, sedang, dan kurang, terpilih sebagai sampel. Sejumlah 5.848, 5.762, dan 5.648 siswa berpartisipasi di setiap tahun putaran studi.

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Maret-April pada setiap tahun putaran studi dan dilakukan secara bersamaan di sekolah-sekolah sampel. Siswa-siswa dalam satu kelas utuh diberikan buku tes untuk dikerjakan selama 90 menit. Setelah itu, siswa, guru Matematika/Biologi/Fisika, dan kepala sekolah diminta untuk mengisi angket.

Hasil
Tabel berikut menunjukkan peringkat prestasi matematika dan sains siswa antar-negara peserta (Tahun 2007 rata-rata skor internasioanal = 500 dan standar deviasi = 100):

Tabel 1. Skor Rata-rata Prestasi Matematika

TIMSS-R 1999

TIMSS 2003

TIMSS 2007
No.
Negara
Skor

No.
Negara
Skor

No.
Negara
Skor











1
Singapura
604

1
Singapura
605

1
Taiwan
598
2
Korea Selatan
587

2
Korea Selatan
589

2
Korea Selatan
597
3
Taiwan
585

3
Hongkong
586

3
Singapura
593
4
Hongkong
582

4
Taiwan
585

4
Hongkong
572
5
Jepang
579

5
Jepang
570

5
Jepang
570
6
Belgia
558

6
Belgia
537

6
Hungaria
517
7
Belanda
540

7
Belanda
536

7
Inggris
513
8
Slowakia
534

8
Estonia
531

8
Rusia
512
9
Hungaria
532

9
Hungaria
529

9
Amerika Serikat
508
10
Kanada
531

10
Malaysia
508

10
Lituania
506
11
Slovenia
530

11
Latvia
508

11
Ceko
504
12
Rusia
526

12
Rusia
508

12
Slovenia
501
13
Australia
525

13
Slowakia
508


Internasional
500
14
Finlandia
520

14
Australia
505

13
Armenia
499
15
Ceko
520

15
Amerika Serikat
504

14
Australia
496
16
Malaysia
519

16
Lituania
502

15
Swedia
491
17
Bulgaria
511

17
Swedia
499

16
Malta
488
18
Latvia
505

18
Skotlandia
498

17
Skotlandia
487
19
Amerika Serikat
502

19
Inggris
498

18
Serbia
486
20
Inggris
496

20
Israel
496

19
Italia
480
21
Selandia Baru
491

21
Selandia Baru
494

20
Malaysia
474

Internasional
487

22
Slovenia
493

21
Norwegia
469
22
Lituania
482

23
Italia
484

22
Siprus
465
23
Italia
479

24
Armenia
478

23
Bulgaria
464
24
Siprus
476

25
Serbia
477

24
Israel
463
25
Rumania
472

26
Bulgaria
476

25
Ukraina
462
26
Maldova
469

27
Rumania
475

26
Rumania
461
27
Thailand
467


Internasional
467

27
Bosnia Herzegovina
456
28
Israel
466

28
Norwegia
461

28
Libanon
449
29
Tunisia
448

29
Maldova
460

29
Thailand
441
30
Masedonia
447

30
Siprus
459

30
Turki
432
31
Turki
429

31
Masedonia
435

31
Yordania
427
32
Yordania
428

32
Libanon
433

32
Tunisia
420
33
Iran
422

33
Yordania
424

33
Georgia
410
34
INDONESIA
403

34
Iran
411

34
Iran
403
35
Cili
392

35
INDONESIA
411

35
Bahrain
398
36
Filipina
345

36
Tunisia
410

36
INDONESIA
397
37
Maroko
337

37
Mesir
406

37
Siria
395
38
Afrika Selatan
275

38
Bahrain
401

38
Mesir
391




39
Palestina
390

39
Algeria
387




40
Cili
387

40
Maroko
381




41
Maroko
387

41
Kolombia
380




42
Filipina
378

42
Oman
372




43
Botswana
366

43
Palestina
367




44
Saudi Arabia
332

44
Botswana
364




45
Gana
276

45
Kuwait
354




46
Afrika Selatan
264

46
Elsavador
340








47
Saudi Arabia
329








48
Ghana
309








49
Qatar
307

 Tabel 2. Skor Rata-rata Prestasi Sains

TIMSS-R 1999

TIMSS 2003

TIMSS 2007
No.
Negara
Skor

No.
Negara
Skor

No.
Negara
Skor











1
Taiwan
569

1
Singapura
578

1
Singapura
567
2
Singapura
568

2
Taiwan
571

2
Taiwan
561
3
Hungaria
552

3
Korea Selatan
558

3
Jepang
554
4
Jepang
550

4
Hongkong
556

4
Korea Selatan
553
5
Korea Selatan
549

5
Estonia
552

5
Inggris
542
6
Belanda
545

6
Jepang
552

6
Hungaria
539
7
Australia
540

7
Inggris
544

7
Ceko
539
8
Ceko
539

8
Hungaria
543

8
Slovenia
538
9
Inggris
538

9
Belanda
536

9
Hongkong
530
10
Finlandia
535

10
Amerika Serikat
527

10
Rusia
530
11
Slowakia
535

11
Australia
527

11
Amerika Serikat
520
12
Belgia
535

12
Swedia
524

12
Lituania
519
13
Slovenia
533

13
Slovenia
520

13
Australia
515
14
Kanada
533

14
Selandia Baru
520

14
Swedia
511
15
Hongkong
530

15
Lituania
519


Internasional
500
16
Rusia
529

16
Slowakia
517

15
Skotlandia
496
17
Bulgaria
518

17
Belgia
516

16
Italia
495
18
Amerika Serikat
515

18
Rusia
514

17
Armenia
488
19
Selandia Baru
510

19
Latvia
512

18
Norwegia
487
20
Latvia
503

20
Skotlandia
512

19
Ukraina
485
21
Italia
493

21
Malaysia
510

20
Yordania
482
22
Malaysia
492

22
Norwegia
494

21
Malaysia
471
23
Lituania
488

23
Italia
491

22
Thailand
471

Internasional
488

24
Israel
488

23
Serbia
470
24
Thailand
482

25
Bulgaria
479

24
Bulgaria
470
25
Rumania
472

26
Yordania
475

25
Israel
468
26
Israel
468


Internasional
474

26
Bahrain
467
27
Siprus
460

27
Maldova
472

27
Bosnia Herzegovina
466
28
Maldova
459

28
Rumania
470

28
Rumania
462
29
Masedonia
458

29
Serbia
468

29
Iran
459
30
Yordania
450

30
Armenia
461

30
Malta
457
31
Iran
448

31
Iran
453

31
Turki
454
32
INDONESIA
435

32
Masedonia
449

32
Siria
452
33
Turki
433

33
Siprus
441

33
Siprus
452
34
Tunisia
430

34
Bahrain
438

34
Tunisia
445
35
Cili
420

35
Palestina
435

35
INDONESIA
427
36
Filipina
345

36
Mesir
421

36
Oman
423
37
Maroko
323

37
INDONESIA
420

37
Georgia
421
38
Afrika Selatan
243

38
Cili
413

38
Kuwait
418




39
Tunisia
404

39
Kolombia
417




40
Saudi Arabia
398

40
Libanon
414




41
Maroko
396

41
Mesir
408




42
Libanon
393

42
Algeria
408




43
Filipina
377

43
Palestina
404




44
Botswana
365

44
Saudi Arabia
403




45
Gana
255

45
Maroko
402




46
Afrika Selatan
244

46
Elsavador
387








47
Botswana
355








48
Qatar
319








49
Ghana
303


Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor prestasi matematika siswa kelas VIII Indonesia berada signifikan di bawah rata-rata internasional. Indonesia pada tahun 1999 berada di peringkat ke 34 dari 38 negara, tahun 2003 berada di peringkat ke 35 dari 46 negara, dan tahun 2007 berada di peringkat ke 36 dari 49 negara . Dengan jumlah negara peserta yang sama seperti dalam matematika, untuk rata-rata skor prestasi sains posisi Indonesia tidak jauh berbeda. Siswa Indonesia pada tahun 1999 berada di peringkat ke 32, pada tahun 2003 berada di peringkat ke 37, dan pada tahun 2007 berada di peringkat ke 35.